KATEGORI

Showing posts with label Negara Air. Show all posts
Showing posts with label Negara Air. Show all posts

Belajar Dari Tanah

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. (QS. 38:71)

Dalam pelajaran bahasa indonesia dikenal ada yang namanya kata benda, kata kerja dan kata sifat, berkaitan dengan Tanah saya mencoba mengambil beberapa sifat tanah yang mudah mudahan bisa mengingatkan kita bahwa manusia memang di ciptakan dari unsur tanah.

Selayaknya tanah pada umumnya mencerminkan sifat kejujuran,, coba perhatikan tanah,, kita tanam padi tumbuh padi,,, di tanami cabe pasti tumbuh cabe,, mustahil kita tanam jagung akan tumbuh jadi tomat, disini ada keselarasan antara apa yang di tanam dan apa yang dihasilkan,, begitu juga manusia selayaknya apa yang ada di hati sejajar dengan apa yang di ucapkan.

Tanah pada umumnya mencerminkan sifat kehidupan, coba perhatikan tanah, tanah tempatnya bermacam kehidupan bergantung,, sumber makanan dan air ada di tanah.. selayaknya manusia bisa menjadikan dirinya kehidupan diantara keluarga dan orang di sekilingnya.. kehidupan yang penuh kasih, berbagi dan peduli.
Tanah juga mencerminkan sifat kedewasaan, coba perhatikan tanah,, kita injak injak,, kita ludahi,,, bahkan buat tempat buang hajatnya beberapa hewan,, bukanya tanah itu rusak malah makin subur, makin bermanfaat bagi tanaman. mari bertanya pada diri sendiri, apakah kita masih suka marah, apa bila ada yang mencaci kita,, anggap saja cacian orang adalah sarana mencuci hati kita agar tetap bersih,,
dan selayaknya manusia adalah Rahmatalli'alamin.

[gone]

Kakek Penjual Rambut Nenek-Nenek


Lihat, betapa ceria wajah kakek yang satu ini. Menghibur kami semua, yang berderet-deret mengantri makanan langka bernama “rambut nenek-nenek”. Kenapa begitu riuh disitu? Si Kakek ini seperti lagi ketemu cucu-cucunya. Kami semua disuruh nyicipin gratis. Dikasihnya pun gak tanggung-tanggung, buanyakkk banget, sampai kami tolak-tolak karena gak tega.

Si Kakek seakan gak peduli, berapa rupiah yang dibayar kepadanya. Beliau terus sibuk menambah dan menambah lagi si rambut nenek-nenek tadi ke dalam plastik-plastik pembelinya. Mbak-mbak kantoran yang cuma nganterin temennya belipun, dipaksa nerima.
Saat tiba giliran kami, salah seorang teman saya order sekian ribu rupiah. Wew... lagi, lagi, lagi dan lagi, si kakek ga berenti-berenti masukin rambut nenek-nenek itu ke kantong plastik kami. Ini kakek, gulanya aja terasa gula asli, apa gak rugi yak. Sudah dua toples sudah ludes, tapi di kantongnya baru terlihat ribu-ribuan aja.
Biar si Kakek ga rugi-rugi amat, kami berusaha ngasih tambahan uang yang mendekati pantas lah ke si kakek ini. Temen saya meletakkan uang itu begitu aja di atas toples, dan rencananya langsung kabur. eh ternyata kalah cekatan sama gerakannya si  kakek. Bahkan tangan teman saya sempat ditarik karena si kakek bener-bener menolak.

“Saya ini ikhlas…betul saya ikhlas…”

Begitu beliau bilang. Teman saya sampai nangis dibuatnya --tapi sambil ngunyah si rambut putih tulang itu sih--
Subhanallah. Semoga menjadi berkah…. Dagangan laris, rejeki lancar, hidup bahagia, dan panjang umur ya Kek, biar makin banyak yang mengecap manisnya rambut nenek-nenek dagangan kakek. Amiin…

'roem

When The Job is Done, Walk Away!


Ini salah satu kalimat paling saya sukai dari serial NCIS (Naval Criminal Investigative Service) yang ditayangkan Fox Channel. Kalimat ini tak lain tak bukan adalah aturan ke-11 dari buanyak item yang dibuat Komandan Lapangan NCIS, Leroy Jethro Gibbs. Ia yang berwatak keras tapi penuh kasih sayang, memberikan hak pada anak buahnya untuk segera menikmati waktu pribadi, setelah misi selesai. Karena ia tahu, esok pasti ada tugas lain lagi, yang artinya: si anak buah masih dibutuhkan dalam kondisi bugar luar dalam.

Bila dikaitkan dengan isu hot di kantor saya, saya kira satu kalimat ini ampuh untuk mencegah kita dari berbagai penyakit, terutama tipes dan hepatitis. Maka dari itu, Syeikh --rekan kerja saya-- selaku alumnus hepatitis, langsung ‘chao’ begitu ‘bel imajiner’ pulang kantor berbunyi. Barangkali dia tidak menerima pesan Gibbs ini, tapi ide itu sudah terpatri di sanubari.

Si Syeikh yang konon masih keturunan Benyamin Sueb –karena tinggal di Kemayoran, deket Jalan Benyamin Sueb—ini dengan cerdas mengamalkannya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Hingga saya pernah kecele, sudah mbuatin teh hangat habis Solat Magrib, untuk “menyogoknya” supaya mau kerja lebih lama, eee.. ternyata beliaunya sudah pulpul.

Sebenarnya terlalu “pintar” sih, untuk menyamakan antara “job” dengan “jam kerja”. Pintar memelintir maksudnya. Wkwkwk…. Tapi sudahlah, bagaimanapun itu memang terjemahan paling diinginkan dari sekian makna yang mesti ditangkap. Eh tapi kalau masih belum bisa menerima pendapat saya ini, saya punya teori satu lagi (baca: ngeles).

Saya termasuk golongan yang percaya, bahwa pekerjaan itu tidak akan pernah selesai sampai kapanpun. Jadi bukan pekerjaannya, tapi masa kerja kitalah yang bisa kita pakai sebagai batasan dalam beraktivitas. Begitulah, nasehat Gibbs ini dapat kita jadikan panutan sebagai semangat “patuh terhadap jam kerja”.

Apalagi dari segi tuntutan kerja, sangat "apple to apple" membandingkan pekerjaan di kantor saya dengan di NCIS.  Saya bisa pastikan, beban kerja karyawan-karyawan di kantor saya sama berat dengan para detektif di NCIS *sampeyan harus percaya! * Karena itu, amatlah pantas dicontoh bagaimana strategi kerja Si Syeikh tadi. Berpacu dengan segala tuntutan dan tekanan di saat jam kerja, memanfaatkan masa 8/17 dengan seefektif mungkin. Dengan begitu, hidup akan terasa damai setelah jam-jam ‘gila’ itu berakhir.

Gibbs yang punya seabrek tugas, tanggung jawab, ples karakter gila kerja saja, bisa membagi waktu. Hingga dia bisa membuat kapal kayu di rumah dan membaca --entah buku apa-- yang menjadi kesukaannya. 

Hidup tetap bisa berjalan di luar waktu kerja. Masih bisa ngajarin anak-anak belajar, nonton tivi kesukaan, main di rumah tetangga, ngerawat taneman dan masih banyak lagi. Bukan kemudian, untuk solat isya’ saja, mesti bangun malam-malam, bahkan hampir pagi, karena langsung ambruk tak berdaya sepulang dari kantor.

Bagaimanapun saudara-saudara, ketahuilah: bahwa kasur di rumah itu lebih nikmat digunakan mulai jam-jam 8 atau 9 malam ketimbang jam 12 malam ke atas. Keuntungan lainnya, kita bisa rutin absen di sepertiga malam bila disiplin mengamalkannya. Akan kita dapati suasana sepertiga malam yang 'syahdu', mengutip tagline rekan kerja saya yang lain.

Demikianlah modifikasi nasehat utama dari para pendahulu kerja kita.

So guys,  when the bell is “teng”, go!!!

Salam Super,
‘roem.

*nasehat-penghiburan-diri*

Nikmat Mana Lagi Yang Dapat Kau Dustakan

tepat jam 12.02 wbj (waktu bagian jogja), di kesendiran malam manakala kelopak mata hendak menurunkan layarnya, tak henti hentinya hati ini mengucapkan syukur yang sungguh tak ternilai..  tak tau mengapa semakin menyebutMu semakin terang mata ini..

dari beberapa perjalanan kehidupan sungguh akal pikiran dan kosa kata yang ada tidaklah mampu menerangkan bagaimana Allah menampakan kuasa kehendakNya,,

harapan dan do'a yang belum terucap sudah terdengarkan,,,
aku mendekatimu dengan cara berjalan, maka Engkau mendekatiku dengan cara berlari..

Ya Allah yang Maha Kasih tak pilih kasih,,,,
setiap nafas setiap detak jantung memujiMu ya Allah,,
yang terjaga selalu, sujudku sembahku di hadapanMu

hitam ini putih karenaMu,,,gelap ini terang karenaMu,, hambar ini rasa karenaMu,, dosa ini ampun karenaMu,,
hina ini mulia karenaMu,, tuli ini mendengar karenaMu,,, bisu ini bicara karenaMu... buta ini melihat karenaMu..

Ya Allah bukalah mata hatiku, jiwaku, bathinku,, dan selimuti cahaya terangMu..

nikmat mana lagi yang dapat kau dustakan
[gone]



Edisi Renungan: Saya Seorang Kaya


(Coklat,  Kolam Renang dan Ramalan Dukun)

Suatu pagi di Hari Ahad, saya duduk di pinggir kolam renang rumah sambil menikmati coklat sekardus besar bersama suami dan anak-anak. Kaos bergaris putih merah dan kacamata minus, saya kenakan saat itu. Anak-anak saya --dua orang perempuan, Vena dan Icha-- sama lahapnya dengan saya, bersaut-sautan menyantap. Sementara ayahnya anak-anak, duduk diantara kami, mendongeng. Saya sesekali menimpali untuk membumbui cerita. Kadang Icha yang cerewet memotong kalimat ayahnya untuk mengulang-ulang ceritanya. Ia terus berkomentar sambil menyeka helai-helai rambut lurus tipis yang loncat ke wajah cantiknya. 

Hehe…geli lihat tingkahnya ini.

Itulah cerita yang ada di benak saya saat itu. Saat SD. Wew…mengerikan sekali, ternyata saya sudah pernah membayangkan bagian adegan sebuah keluarga sejak umur segitu. Tapi tunggu dulu, bukan soal berkeluarganya, tapi dua hal remeh temeh yang menjadi inspirasi saya di situ: kolam renang dan coklat.  
Saya membayangkan bagaimana kehidupan seorang yang kaya. Rumah besar dengan kolam renang luas, dan punya stok coklat mahal yang banyak. 

Kondisi saya saat itu berbeda.

Bertahun lamanya masa berlalu, kemudian sebuah perbincangan singkat membuat saya terkenang kembali. Ibu saya menyampaikan hal ini: saya akan menjadi “pusaka keluarga”, anak dengan rejeki paling banyak di keluarga ini. Saya tertawa, karena ibu saya masih juga mendengar ramalan dukun iseng itu.

Cinta

Sudah berganti masa lagi, saya semakin menua. Tiba-tiba terngiang apa yang disampaikan ibu saya. Tak butuh waktu lama, saya merevisi “keyakinan” saya kala itu. Bukan berniat syirik, hanya baru tersadar, bahwa saya kaya itu memang benar. Bahkan sudah sejak lahir. 

Betapa tidak? Saya dilahirkan dari orang tua yang punya cinta melimpah, kemudian dibesarkan di tengah keluarga dan lingkungan yang tak pernah menagih imbalan atas apa yang pernah mereka beri. Saya ingat-ingat, tidak menemukan sekalipun saat-saat sulit menjalani hidup. Semua kebutuhan yang diperlukan selalu datang tepat waktu tanpa memberi kesempatan pada yang namanya: kekurangan.

“Apa yang bisa aku bantu?” tanya seorang teman seruangan saya, saat melihat saya sudah mulai tidak fokus mengerjakan tugas kantor. Detail-detail seperti ini yang terus menambah pundi-pundi harta kekayaan saya.

Subhanallah…

'roem

VD in The Deen Show

Sumber: muslimchannel.com
Pernah mendengar tentang The Deen Show atau mungkin menyimak acara-acaranya? Bagi yang belum pernah mendengar, let me introduce it. Ini adalah salah satu acara TV di Amrik yang mengupas tentang Islam dan muslim. Acara yang dipandu oleh Eddie ini saya temukan saat browsingbrowsing pada tahun 2007 silam, selanjutnya saya mengikuti milisnya. Menurut saya acaranya sangat menarik. Untuk membahas topik tertentu, The Deen Show menampilkan narasumber yang kompeten.

Hari ini --bertepatan dengan hari lahir sahabat saya-- Eddie mengupas tentang Valentines Day. Buat kamu-kamu yang gag punya ilmu memadai tentang VD (tidak dibaca Pidie Baiq yaa-red.), daripada salahmikir-salahucap-salahlaku-salahekspresi, mendingan simak ulasan Eddie ini deyh. Highly recommended!
---
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban. QS. Al Israa`(17) : 36


End

--@ office, duapuluhsatu duapuluhsatu pi em.. sambil siap-siap pulang setelah menerima telepon dari babeh yang bilang, “Belum pulang? Super sekali..” :D

Sayah tidak Bervalentine

Membaca postingan teman sayah di bbm tentang kampanye anti valentine sempat mempertanyakan sendiri apakah saya bervalentine? ada yang berpendapat ini bukan budaya islam,, kisah tentang pendeta yang dihukum mati karena menjalin kasih dengan seorang wanita merupakan pelanggaran aturan.

Teringat waktu di kampung sore sore menggunakan lampu minyak yang dibikin dari bambu (dalambahasasayanamanya obor) menuju surau untuk mengaji,,, ustad mengajarkan hafalan sifat sifat Allah,,, diantaranya Rahman dan Rahim,,

Apakah pendeta valentine itu juga menghafalkan Rahman Rahim juga ya? (samakayaksayawaktukecil)

Mengutip MT dalam motivasinya,,, kita mesti menerapkan sifat sifat Allah dalam keseharian kita,, jadi mari kita berRahman Rahim setiap hari...
[b]

Ageman (bhs jawa=red)

Bismillahirrahmaanirahiim
Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Secara entomologis, agama berarti situasi yang tidak kacau. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin dan berasal dari kata kerja “re-ligare” yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan (wikipedia)
Dalam Al-quran
Ali ‘Imron 19 : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam .Ar-Ruum 30 : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuiketerangan lain : Al A’raaf 172 .
Seberapa lama kita memperlajari agama? sejak kita nalar atau mulai bisa berfikir… bahkan mulai dilahirkan ke bumi kita sudah di ajarkan oleh orang tua tentang agama.
Tapi sebarapa kita tau tentang agama itu sendiri?
Mengutip kajian hari ust TNK tentang Kompetisi mulai dari awal kejadian manusia sudah ada kompetisi,,, karena sudah Fitrah Manusia,,,,, Jika menggaris bawahi tentang fitrah manusia, maka kita di tuntut konsistensinya terhadap fitrah tersebut.
Agama tidak hanya di ajarkan, tetapi juga bisa di jalankan, sehingga menjadi pegangan hidup, landasan hidup, pola hidup dalam kehidupan. Sedekat apa kita berhubungan dengan agama atau kefitrahan itu..?
Orang yang dekat dengan Agama akan terjaga dari sifat yang merugikan orang lain, karena itu bertentangan kefitrahan,, sehingga menjadi pakaiannya dalam menjalani kehidupan atau ageman (bhs jawa=red)
Mohon koreksi jika ada salah [gone]

Cahaya Allah

Sahabatku,
hatimu adalah cermin yang kotor. Engkau harus membersihkannya dari tabir debu yang menutupinya. Hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya rahasia Ilahi. Ketika cahaya dari
Allah [yang] adalah cahaya langit dan bumi mulai menyinari bagian-bagian hatimu. Pelita hati akan menyala. Pelita hati itu didalam kaca dan kaca itu seakan akan bintang (yang bercahaya)
kemudian didalam hati itu, kilat penyingkapan Ilahi akan memancar. Kilat ini beasal dari awan guntur dari makna yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, dan pancaran cahaya terhadap pohon pengungkapan itu begitu murni, begitu nyata sehingga ia menerangi, walaupun tidak disentuh api
(Q.S. An Nur [24] : 35)
 
kemudian pelita pengetahuan menyala dengan sendirinya. Bagaimana ia tetap padam ketika cahaya rahasia Ilahi menyinarinya? Jika hanya cahaya rahasia Ilahi yang menyinarinya,  langit malam rahasia akan menyala dengan ribuan bintang dan dengan bintang-bintang [engkau] menemukan jalan[mu]
(Q.S. An Nahl [16] : 16)
Beruntunglah orang orang yang selalu membersihkan hatinya karena hati yang bersih selalu memancarakan cahaya cahaya Allah yang tercermin pada perilaku kehidupannya...
[b]

supjektip sepenuh hati


source : internet

"Apabila kamu mencintai seseorang, janganlah terlalu berlebih-lebihan. Karena mungkin suatu saat kamu akan membencinya. Dan apabila kamu membenci sesorang juga janganlah terlalu berlebih-lebihan, karena mungkin suatu saat kamu akan mencintainya". (Rasulullah Saw.)

Tiba-tiba teringat pada ucapan Rasulullah Saw. (Allohumma Sholli  Wa Salim Wa Barik Alaih) di atas, perihal objektivitas kita pada seseorang. Iya sih. Bener banget. Kalo sedang terkena virus supjektip, entah itu berupa supjektip berupa kesengsem, maupun supjektip sebaliknya yaitu buenci setengah muati pada seseorang, puasti kita sulit jernih bepikir.

Jika kita sedang kesengsem pada seseorang dengan kelebihan 6 dan kekurangan 4 misalnya, dari total 10 integritas dirinya. Maka biasanya, umumnya, keseringannya, kita “buta” akan si 4 kekurangan. Tapi kebencian  pada personal yang sama akan menghilangkan 6 kebaikan yang ada. Semua tampak buruk di mata, dan telinga orang yang membenci.

Kadang, kita lupa kalau ancaman untuk menjadi orang yang tidak objektip itu mengintip kita setiap hari. Setiap saat bahkan.  Yang lebih menyedihkan, bila kita menemui orang yang baru kita kenal, kita akan jauh lebih hebat lagi kemampuan supjektipnya, jika tidak pandai-pandai senantiasa  mengingatkan diri bahwa tiap orang punya hak untuk “praduga tak bersalah” atas dirinya.

Dua hal yang barangkali bisa menyelamatkan kita dari jebakan supjektip buta, mungkin adalah : pertama, berprasangka baik, kedua cek dan ricek. Kalo info yang kita dengar tentang seorang yang baru kita kenal baik tentu mudah bagi kita memulai berprasangka baik atas dirinya, dan setelah kita cek dia memang baik tentu makin yakin kita bahwa dirinya memang penuh kebaikan. Itu kalo supjektip dalam kebaikan. 

Bagaimana kalau kita mendengar info buruk tentang seseorang yang belum kita kenal? Nah, biasanya kita akan lebih sulit untuk berprasangka baik .

Tapi kalo kita realisasikan mencoba selalu berprasangka baik dan cek dan ricek info yang kita dengar, mungkin kita akan lebih nyaman. Dan orang lain pun akan nyaman dengan kita. Lalu bagaimana jika info dan kenyataan membuktikan bahwa orang tersebut memang buruk akhlak atau minimal sifat misalnya? Tetaplah berprasangka baik, dan berusahalah senantiasa menempatkan segala sesuatunya dengan pas, ndak berlebih-lebih.. Karena sebelum setiap kita menghembuskan nafas terakhir, kita masih bisa berubah. Semoga berubahnya jadi makin baik atau minimal buruk ke baik tentunya. 

Seorang teman pernah memngingatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani berkata :

“Bila engkau bertemu dengan seseorang , hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu : “Boleh jadi dia lebih baik disisi Allah daripada diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.

Jika orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu , maka katakanlah dalam hatimu : “ Boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa , maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik daripada aku.”

Bila dia orang yang lebih tua , hendaknya engkau mengatakan dalam hati : ”Orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku”.
Jika dia orang ‘Alim , maka katakan dalam hatimu :” Orang ini telah diberi oleh Allah sesuatu yang tidak bisa aku raih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya”.

Bila dia Orang Bodoh, maka katakan dalam hatimu : Orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada –NYA , padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan husnul khaitimah atau Su’ul khatimah).

Bila dia orang kafir , maka katakan dalam hatimu : “Aku tidak tahu bisa jadi dia akan masuk islam, lalu menyudahi seluruh amalannya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu menyudahi seluruh amalanku dengan amal yang buruk”. ( Nauzubillahi min zalik)

Selamat sore. Selamat menjadi pribadi-pribadi yang objektip dan bila supjektip, supjektip yang menempatkan setiap orang adalah baik dan punya kelebihan, disamping kekurangannya. 

Dan jangan dibalik.

G.
Selasa, 7 Februari 2012 – didetik-detik menjelang pulang ke mampang

Menghilangkan Batasan Batasan yang ada di Hati Kita,,

Pagi itu Pak tani hendak mengairi sawahnya, untuk itu dibutukan sebatang bambu guna mengalirkan air sebagai pengganti pipa yang ngga mampu ia beli, pergilah pak tani ke pekarangan belakang menuju serumpunan pohon bambu yang sudah cukup umur,,
berkatalah pak tani pada salah satu pohon bambu yang akan di tebang,,
Pak Tani : Wahai pohon bambu,, engkau akan aku potong
Bambu : Baiklah tuanku,,, tebanglah aku sekarang juga tetapi,, sebelumnya ,,, bolehkah saya bertanya tuanku?
Pak Tani : Silahkan,,, apa yang hendak engkau tanyakan...
Bambu : Apa yang hendak tuanku lakukan dengan menebang saya...
Pak Tani : Aku hendak mengairi sawah,,
Bambu : Lalu
Pak Tani : Ku gunakan batangmu yang lurus dan besar,, ku patahkan semua ranting ranting yang  membebanimu,, ku hilangkan skat skat ruas dalam dirimu supaya air mengalir dengan lancar.
Bambu : Pasti sakit sekali rasanya di tebang,,, pedih tak tertahankan bila rantingku di patahkan,, dan hancur lebur dalam diriku ketika skat skat dalam diriku di hilangkan,,,
Pak tani : Benar sekali wahai bambu,,, ku pilih kamu,, karena kamulah yang terbaik,, kamu lah yang paling siap diantara yang lain,, dan aku tau kamu pasti mampu mengairi sawah,, supaya padi tumbuh subur,,,

Hilangkan juga skat dalam hati kita,,, supaya keberkahan bukan hanya kita dapatkan tetapi juga akan mengalir kepada orang orang disekelililng kita.
Maka beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan jiwanya [b]